UCAPAN

SELAMAT DATANG DAN TERIMAKASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG " GBI DEBEGAN " TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.

Senin, 01 November 2010

Jangan menjauhkan diri dari Ibadah

 
 

Sent to you by Debora via Google Reader:

 
 

via Catatan Facebook Purim Marbun by Purim Marbun on 10/30/10

 Ibrani 10:25 "Jangnlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasehati dan semakin giat melalukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat".

 

Kalimat firman Tuhan yang di atas memberikan petunjuk yang sangat jelas bagi kita, supaya kita jangan menjauhkan diri dari ibadah-ibadah kita. Dalam ayat ini dipakai kata "pertemuan ibadah" ini merujuk kepada perskeutuan anak-anak Tuhan, dimana semua orang yang percaya hidup dalam persekutuan yang terbangun dengan baik. Persekutuan pada dasarnya terbagi dua, persekutuan dengan Allah sering kita sebut dengan persekutuan vertikal, dan persekutuan dengan sesama atau yang lazim disebut dengan persekutuan horizontal.

 

Dua persekutuan yang di sebut diatas, bagi kita anak-anak Tuhan haruslah dilakukan dengan seimbang. Artinya kita tidak boleh mementingkan hanya satu, kemudian melupakan atau melalaikan yang lain. Mengapa? sebab dua persekutuan ini  membangun kerohanian yang benar. Sebagaimana kita mengasihi Allah maka demikian juga kita mengasihi sesama kita. Mustahil seseroang bisa mengasihi Allah namun tidak mengasihi sesama, demikian juga dengan persekutuan, jika kita bisa bersekutu dengan Allah maka seharusnya persekutuan dengan sesama juga pasti akan terjalin. Itulah sebabnya penulis kitab Ibrani ini menyebutkan "jangan meninggalkan pertemuan ibadah".

 

Mengapa kita tidak boleh meninggalkan persekutuan? atau pertemuan ibadah? Ada beberapa hal yang bisa kita renungkan. Pertama, seseorang yang meninggalkan pertemuan ibadah (persekutuan) akan mengalami kekeringan rohani. Di ibadah kita mengalami kesegaran rohani, iman dan juga pengharapan kepada Tuhan. Melalui ibadah kita akan mendapatkan jamahan Tuhan bagi hidup kita. Itu sebabnya ada kerugian kalau kita menjauhkan diri dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. Coba saja perhatikan mereka yang jarang beribadah kepada Tuhan, pasti mereka memiliki kehidupan yang suram, putus asa, meski memiliki segalanya namun hal itu tidak menjawab kebutuhan mereka. Kebutuhan rohani hanya bisa dipenuhi dengan ibadah yang kita lakukan. Kedua, orang yang meninggalkan ibadah (persekutuan dengan sesama) cenderung menjadi pribadi yang individualistik. Dalam ibadah salah satu yang terbangun adalah hubungan kita dengan sesama orang percaya. Kita saling mendoakan, membangun, bertolong-tolongan, dll. Hubungan sesama orang-orang percaya menjadi cair ketika persekutuan satu dengan yang lain terjalin dengan baik (Band Kisah 2:42-47). Ibadah membawa dampak bagi kita bahwa tingkat kepedulian kita (simpati, empati) bahkan pengorbanan kita pun menjadi nyata bagi sesama. Ibadah bukan sekedar perkumpulan biasa, namun wadah dimana orang-orang percaya bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Tuhan, dan mempraktekkan kasih itu.

 

Jangan tinggalkan ibadah atau persekutuan! Banyak berkat yang akan kita terima melalui ibadah/persekutuan. Dan janji Tuhan bahwa jika kita beribadah ia memberikan berkat bagi kita baik secara jasmani maupun rohani (Keluaran 23:23-25; 1 Timotius 4:8).

 

Selamat pagi

Tuhan memberkati.



 
 

Things you can do from here:

 
 

Tiga Langkah Menghadapi Topan Kehidupan

 
 

Sent to you by Debora via Google Reader:

 
 

via Catatan Facebook Sinar Viktori Gemilang by Sinar Viktori Gemilang on 10/31/10

Banyak orang mengira bahwa hidup bersama Yesus selalu aman, nyaman, dan menyenangkan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan hal itu. Dengan kata lain, jika Anda rindu menjadi orang percaya sejati, Anda juga perlu mempersiapkan diri dengan baik supaya mental Anda siap untuk berhadapan dengan topan kehidupan dalam berbagai bentuknya. Berikut ada beberapa tips untuk Anda:

 

 

1. Mengenal Tuhan dengan benar. 

Dalam Markus 4:35-40 para murid terheran-heran saat Yesus meredakan topan dahsyat menyerang perahu mereka. Kejadian tersebut telah meningkatkan pengenalan mereka bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa. Pengenalan seperti inilah yang akan menjadi fondasi utama untuk dapat menghadapi setiap topan dalam kehidupan Anda. Ada tiga pengertian dan tingkat pengenalan akan Allah dalam hidup orang percaya: mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya, mengalami Tuhan secara nyata, dan tingkat yang tertinggi adalah keintiman dengan Tuhan.

 

2. Tidur saja! 

Meskipun secara psikologi ada saran untuk tidur ketika saat menghadapi masalah, bukan berarti Anda harus memperbanyak tidur. "Tidur" dalam kisah ini bukan dalam arti harfiah melainkan kondisi yang dialami ketika seseorang sedang tidur. Ketika seseorang sedang tidur, ada tiga kondisi yang biasanya dapat ditemukan: berserah, tenang, dan pikiran yang tidak aktif. Ketiga hal ini dapat Anda terapkan ketika topan sedang menghampiri kehidupan Anda. Berserahlah kepada Tuhan karena Dia akan bertindak, alamilah ketenangan serta damai sejahtera dari Tuhan karena Anda sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Setelah itu buanglah segala ketakutan, kekhawatiran, atau ketidakmungkinan dari pikiran Anda. Semua hal buruk harus dinon-aktifkan. Isilah pikiran Anda dengan firman Tuhan, dan biarkan Tuhan memberi Anda ide-ide kreatif yang akan menolong Anda menghadapi topan kehidupan.

 

3. Percayalah dan perkatakan firman.

Kecaman Yesus terhadap para murid waktu itu sangatlah jelas. Mereka takut dan kurang percaya! Dia ingin Anda belajar percaya kepada Tuhan dan kuasa firman-Nya. Berdirilah di atas firman Tuhan dan iman Anda. Perkatakan firman Allah sebagai senjata untuk membalikkan keadaan, seperti yang Yesus lakukan. Misalnya jika Anda merasa lemah, perkatakan "Aku kuat," atau ketika sakit, katakanlah, "Oleh bilur Yesus, aku sembuh!" 

 

 

YESUS KRISTUS mengasihi Anda..

 

 

 

 

 

 

(Sumber: Bram Soei Ndoen/Beyond The Secret/ ANDI 2009)



 
 

Things you can do from here:

 
 

Apa kata TUHAN pada kita?

 
 

Sent to you by Debora via Google Reader:

 
 

via Catatan Facebook Sinar Viktori Gemilang by Sinar Viktori Gemilang on 10/31/10

Bacaan Firman TUHAN: Lukas 11:47-54

 

Yesus tidak senang dengan kemunafikan. Dari sisi luar orang itu kelihatan baik, penuh hormat dan memiliki kedudukan tetapi di sisi dalamnya, penuh dengan kebusukan dan tipu muslihat. Ia melakukan hal-hal yang suci untuk motif duniawi. Berdoa di pinggi jalan agar dihormati dan mendapat nama. Menolong orang lain bukan karena gerakan hati, tetapi karena dipublikasikan agar banyak orang memujinya.

 

 

Kepada orang-orang yang demikian itu Yesus berkali-kali mengatakan, "Celakalah kalian." Sikap yang tidak benar, apalagi sampai membawa kerugian dan penderitaan bagi orang lain adalah sikap-sikap yang bisa membawa akibat buruk bagi dirinya di kelak kemudian hari. Ketika Yesus mengatakan "Celakalah kalian", surga tertutup bagi mereka sebab mereka sendiri memang tidak menghendakinya. Namaun kalau Yesus mengatakan "Berbahagialah," surga telah dekat dengan mereka karena Allah pun sangat berkenan dengan apa yang dilakukannya. Namun kalau Yesus mengatakan, "Bertobatlah," itu berarti masih ada kesempatan bagi orang itu untuk masuk dalam kemuliaan Allah kalau mau bertobat dan mengubah segala sikap dan perilaku dirinya.

 

Dengan Firman Tuhan di atas, kita pantas melihat kepada diri kita sendiri. Terhadap kehidupan yang telah kita jalani dengan segala sikap hidup yang telah kita lakukan, perkataan apa yang kiranya akan Tuhan katakan kepada kita? Celakalah? Bertobatlah? atau Berbahagialah? Kalau Tuhan sampai berkata, "Celakalah" tentu kita perlu menata kembali sikap dan perilaku kita agar hal buruk tidak terjadi dalam kehidupan kita kelak. 

 

Tidaklah tepat kalau kira marah, emosi, dan kemudian meninggalkan Tuhan.

 

 

YESUS KRISTUS mengasihi Anda..

 

 

 

 

 

(Sumber: FX. Sugiyana Pr)



 
 

Things you can do from here: