UCAPAN

SELAMAT DATANG DAN TERIMAKASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG " GBI DEBEGAN " TUHAN YESUS MEMBERKATI ANDA.

Selasa, 02 November 2010

Membuat Allah Heran

 
 

Sent to you by Debora via Google Reader:

 
 

via Renungan Harian Kita by noreply@blogger.com (Yuliana) on 11/1/10

Diambil dari khotbah Pdt. Samuel Duddy

Lukas 7:1-10: "Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati." Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka…… Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya. "Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!". (PB hal 78)

Membuat manusia heran akan kuasa Allah adalah hal yang biasa, namun membuat Allah heran adalah suatu hal yang luar biasa.

Yesus heran akan sikap perwira itu karena sikapnya yang merupakan sikap Kerajaan Allah. Ada dua jenis keheranan, yaitu yang negatif dan positif. Yang negatif adalah jika ada seseorang yang selalu datang beribadah ke gereja, namun orang ini tidak mengalami pembaharuan di dalam hidupnya, hatinya degil dan tidak taat perintah. Akibatnya orang-orang yang melihatnya menjadi heran atas kekerasan hatinya. Sedangkan keheranan yang positif adalah ketika seseorang sedang berada di dalam masalah dan tekanan, namun tetap beriman dan setia beribadah kepada Tuhan. Kita menjadi heran dan kagum akan ketekunannya mencari Tuhan.

Bagaimanakah kita dapat membuat Allah heran adalah:

1. Milikilah iman dan sikap hati yang mengasihi dan menghargai.
Lukas 7:2, "Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
Perwira tersebut tidak meremehkan budaknya, namun dia menghargainya dan mengasihinya, meskipun dia memiliki hak dan kesempatan untuk menindas, namun perwira ini tidak melakukannya.

Sebagai murid-murid Kristus kita harus perduli kepada orang yang tertindas dan miskin. Baca Amsal 19:17, "Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu". Bandingkan Lukas 6:27, 35, agar kita mengasihi musuh dan berbuat baik kepada siapa pun tanpa mengharapkan balasan. Jangan hanya bersikap baik dan pilih kasih kepada orang-orang yang berpangkat dan terpandang saja, namun juga kepada pembantu, karyawan dan orang biasa.

2. Milikilah iman dan sikap hati yang mengasihi bangsa-bangsa dan jiwa-jiwa.
Ayat 5a: "Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita…"
Perwira Romawi ini mengasihi bangsa Yahudi, meskipun mereka berlainan suku bangsa dan bahkan merupakan bangsa jajahan dari bangsa Romawi.

Kalau kita mengasihi jiwa-jiwa dan bangsa lain, maka kita akan mengalami dampaknya yaitu damai sejahtera dan ketenangan akan dicurahkan atas bangsa kita. Lihat Yesaya 32: 15-17, "…Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Bangsaku akan diam di tempat yang damai, di tempat tinggal yang tenteram …." Dan Yeremia 29:7 "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanm

3. Milikilah iman dan sikap hati untuk pekerjaan Tuhan.
Ayat 5b: "….dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." Menjadi suka rela berkorban dan memberi untuk pekerjaan Tuhan. Jadikan apa yang kita miliki itu untuk menjadi berkat bagi kemuliaan nama Tuhan, sama seperti perwira Romawi itu, yang memiliki kuasa dan kekayaan.

4. Milikilah iman dan sikap hati yang percaya kepada firman Tuhan.
Ayat 7, 8: "Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, …"

Perwira itu tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap firman Tuhan, meskipun situasinya genting. Biasanya ketika berada dalam kondisi dan situasi yang sulit, orang-orang cenderung melupakan Tuhan karena tekanan masalahnya itu. Namun, sebagai orang percaya, hendaklah kita tetap mempercayai Tuhan, apa pun kondisi kita, sama seperti sikap perwira Romawi itu.

Renungan terkait...
* 7 hadiah terbaik
* Tentang hamba Tuhan
* Kuasa dalam ucapan Anda
* Kasih Bapa
* Masihkah perlu gengsi dalam hidup


 
 

Things you can do from here:

 
 

Senin, 01 November 2010

Jangan menjauhkan diri dari Ibadah

 
 

Sent to you by Debora via Google Reader:

 
 

via Catatan Facebook Purim Marbun by Purim Marbun on 10/30/10

 Ibrani 10:25 "Jangnlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasehati dan semakin giat melalukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat".

 

Kalimat firman Tuhan yang di atas memberikan petunjuk yang sangat jelas bagi kita, supaya kita jangan menjauhkan diri dari ibadah-ibadah kita. Dalam ayat ini dipakai kata "pertemuan ibadah" ini merujuk kepada perskeutuan anak-anak Tuhan, dimana semua orang yang percaya hidup dalam persekutuan yang terbangun dengan baik. Persekutuan pada dasarnya terbagi dua, persekutuan dengan Allah sering kita sebut dengan persekutuan vertikal, dan persekutuan dengan sesama atau yang lazim disebut dengan persekutuan horizontal.

 

Dua persekutuan yang di sebut diatas, bagi kita anak-anak Tuhan haruslah dilakukan dengan seimbang. Artinya kita tidak boleh mementingkan hanya satu, kemudian melupakan atau melalaikan yang lain. Mengapa? sebab dua persekutuan ini  membangun kerohanian yang benar. Sebagaimana kita mengasihi Allah maka demikian juga kita mengasihi sesama kita. Mustahil seseroang bisa mengasihi Allah namun tidak mengasihi sesama, demikian juga dengan persekutuan, jika kita bisa bersekutu dengan Allah maka seharusnya persekutuan dengan sesama juga pasti akan terjalin. Itulah sebabnya penulis kitab Ibrani ini menyebutkan "jangan meninggalkan pertemuan ibadah".

 

Mengapa kita tidak boleh meninggalkan persekutuan? atau pertemuan ibadah? Ada beberapa hal yang bisa kita renungkan. Pertama, seseorang yang meninggalkan pertemuan ibadah (persekutuan) akan mengalami kekeringan rohani. Di ibadah kita mengalami kesegaran rohani, iman dan juga pengharapan kepada Tuhan. Melalui ibadah kita akan mendapatkan jamahan Tuhan bagi hidup kita. Itu sebabnya ada kerugian kalau kita menjauhkan diri dari ibadah-ibadah yang kita lakukan. Coba saja perhatikan mereka yang jarang beribadah kepada Tuhan, pasti mereka memiliki kehidupan yang suram, putus asa, meski memiliki segalanya namun hal itu tidak menjawab kebutuhan mereka. Kebutuhan rohani hanya bisa dipenuhi dengan ibadah yang kita lakukan. Kedua, orang yang meninggalkan ibadah (persekutuan dengan sesama) cenderung menjadi pribadi yang individualistik. Dalam ibadah salah satu yang terbangun adalah hubungan kita dengan sesama orang percaya. Kita saling mendoakan, membangun, bertolong-tolongan, dll. Hubungan sesama orang-orang percaya menjadi cair ketika persekutuan satu dengan yang lain terjalin dengan baik (Band Kisah 2:42-47). Ibadah membawa dampak bagi kita bahwa tingkat kepedulian kita (simpati, empati) bahkan pengorbanan kita pun menjadi nyata bagi sesama. Ibadah bukan sekedar perkumpulan biasa, namun wadah dimana orang-orang percaya bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Tuhan, dan mempraktekkan kasih itu.

 

Jangan tinggalkan ibadah atau persekutuan! Banyak berkat yang akan kita terima melalui ibadah/persekutuan. Dan janji Tuhan bahwa jika kita beribadah ia memberikan berkat bagi kita baik secara jasmani maupun rohani (Keluaran 23:23-25; 1 Timotius 4:8).

 

Selamat pagi

Tuhan memberkati.



 
 

Things you can do from here:

 
 

Tiga Langkah Menghadapi Topan Kehidupan

 
 

Sent to you by Debora via Google Reader:

 
 

via Catatan Facebook Sinar Viktori Gemilang by Sinar Viktori Gemilang on 10/31/10

Banyak orang mengira bahwa hidup bersama Yesus selalu aman, nyaman, dan menyenangkan. Padahal, Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan hal itu. Dengan kata lain, jika Anda rindu menjadi orang percaya sejati, Anda juga perlu mempersiapkan diri dengan baik supaya mental Anda siap untuk berhadapan dengan topan kehidupan dalam berbagai bentuknya. Berikut ada beberapa tips untuk Anda:

 

 

1. Mengenal Tuhan dengan benar. 

Dalam Markus 4:35-40 para murid terheran-heran saat Yesus meredakan topan dahsyat menyerang perahu mereka. Kejadian tersebut telah meningkatkan pengenalan mereka bahwa Yesus adalah Tuhan yang berkuasa. Pengenalan seperti inilah yang akan menjadi fondasi utama untuk dapat menghadapi setiap topan dalam kehidupan Anda. Ada tiga pengertian dan tingkat pengenalan akan Allah dalam hidup orang percaya: mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya, mengalami Tuhan secara nyata, dan tingkat yang tertinggi adalah keintiman dengan Tuhan.

 

2. Tidur saja! 

Meskipun secara psikologi ada saran untuk tidur ketika saat menghadapi masalah, bukan berarti Anda harus memperbanyak tidur. "Tidur" dalam kisah ini bukan dalam arti harfiah melainkan kondisi yang dialami ketika seseorang sedang tidur. Ketika seseorang sedang tidur, ada tiga kondisi yang biasanya dapat ditemukan: berserah, tenang, dan pikiran yang tidak aktif. Ketiga hal ini dapat Anda terapkan ketika topan sedang menghampiri kehidupan Anda. Berserahlah kepada Tuhan karena Dia akan bertindak, alamilah ketenangan serta damai sejahtera dari Tuhan karena Anda sudah menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Setelah itu buanglah segala ketakutan, kekhawatiran, atau ketidakmungkinan dari pikiran Anda. Semua hal buruk harus dinon-aktifkan. Isilah pikiran Anda dengan firman Tuhan, dan biarkan Tuhan memberi Anda ide-ide kreatif yang akan menolong Anda menghadapi topan kehidupan.

 

3. Percayalah dan perkatakan firman.

Kecaman Yesus terhadap para murid waktu itu sangatlah jelas. Mereka takut dan kurang percaya! Dia ingin Anda belajar percaya kepada Tuhan dan kuasa firman-Nya. Berdirilah di atas firman Tuhan dan iman Anda. Perkatakan firman Allah sebagai senjata untuk membalikkan keadaan, seperti yang Yesus lakukan. Misalnya jika Anda merasa lemah, perkatakan "Aku kuat," atau ketika sakit, katakanlah, "Oleh bilur Yesus, aku sembuh!" 

 

 

YESUS KRISTUS mengasihi Anda..

 

 

 

 

 

 

(Sumber: Bram Soei Ndoen/Beyond The Secret/ ANDI 2009)



 
 

Things you can do from here: